Untuk Info Training, in House Training, Konsultansi, Membangun Sistem (ISPO, ISO Series, OHSAS, SMK3), Kajian, Pendampingan serta Modul untuk Perbaikan dan Peningkatan Kinerja unit di Perusahaan silahkan kirim email alamat berikut: trainingperkebunan@gmail.com

Rabu, 04 Agustus 2010

Sengketa Lahan, Massa Bakar Balai Penelitian Kebun Karet


BANYUASIN, KOMPAS.com - Polisi dan pegawai Balai Penelitian Kebun Karet Sembawa, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, terus berjaga hingga Selasa (3/8/2001) pagi untuk mengantisipasi kemungkinan buruk.

Itu setelah massa dari Desa Tanjung Menang Musi dan Sungai Naik, Kecamatan Rantau Bayur, Kabupaten Banyuasin, membakar bangunan Balai Penelitian Kebun Karet Sembawa, Senin (2/8/2010).

Massa diduga kesal karena sengketa lahan seluas 3.500 hektare tidak segera diselesaikan. Lebih dari 500 orang mendatangi lokasi kebun, perkantoran dan pabrik percobaan karet remah milik balai.

Sebagian massa membawa kayu, besin, ban bekas dan senjata tajam sejenis parang. Setelah mendatangi lokasi penanaman di unit V perkebunan karet dan lokasi pabrik pengolahan karet itu, massa menuntut agar dapat berdialog langsung dengan perwakilan perusahaan.

Mereka ingin bicara soal konflik lahan sejak 1995. Namun, karena tidak direspons, warga memutuskan akses jalan ke lokasi pabrik itu. Massa akhirnya membakar dua bangunan perkantoran yang berfungsi sebagai kantor harian administrasi hasil kebun.

Selain itu, massa juga merusak kantor operasional pabrik, dengan memecahkan kaca, mencoret dinding dan merusak fasilitas administrasi di dalamnya, dengan melempari pabrik pengolahan karet menggunakan batu.

Mereka juga merusak jalan, sehingga menghentikan akses masuk kendaraan ke pabrik. Sekitar pukul 11.00 WIB, massa kembali memboikot aktivitas pabrik dan perkebunan. Seluruh pegawai akhirnya menghentikan aktivitas pabrik dan perkebunan.

Beberapa pegawai dan keluarga yang menempati mess balai ketakutan. Akhirnya, massa memusatkan diri di depan pabrik dengan membakar ban bekas sambil menunggu pihak perusahaan untuk bernegosiasi akan sengketa lahan tersebut.

Akibat perusakan itu, badan yang bertugas melakukan penelitian atas tanaman karet dan sawit di Sumatera Selatan tersebut, mengalami kerugian mencapai ratusan juta rupiah dan kehilangan dokumen penting.

Ketua Forum Masyarakat Desa, Rafiudin, mengatakan, aksi warga merupakan bentuk kekesalan yang memuncak karena sengketa lahan sejak 1995 tidak mendapatkan solusi.

"Warga kesal karena lahan adat yang dikuasai paksa oleh Balit. Sementara, lama-kelamaan luas areal garap Balit semakin meluas, hingga tidak memberikan akses tanah pada masyarakat dua desa," ujar Rafiudin.

Mantan anggota TNI AD itu menambahkan, sengketa lahan ini juga pernah diadukan sampai Kementerian Pertanian RI.

"Warga sudah tidak percaya lagi dengan janji. Apalagi tanah adat yang menyimpan kekayaan adat desa makin beralih fungsi menjadi tanaman karet dan sawit yang tidak memberikan dampak nyata bagi ekonomi rakyat desa. Sementara, rayat desa sudah tidak bisa lagi mengusahakan tanah tersebut," ujar dia.

Rafiudin menjelaskan, sejak 1973 lahan adat masyarakat sudah dipinjam oleh pihak Balit Sembawa dengan tujuan penelitian. Lalu di tahun 1978, lahan tersebut sudah mendapatkan sertifikat BPN Sumsel, sehinga sejak tahun tersebut juga, masyarakat tidak lagi bisa mengupayakan lahan adat tersebut untuk kepentingan desa.

Setelah membakar kantor yang diresmikan tahun 1998 itu, warga dua desa kembali berkumpul di sekitar pabrik yang telah menjual karet hasil penelitian itu.

Aksi anarkhis itu akhirnya dapat dibubarkan paksa dengan mengerahkan satu kompi dari Brimob Kepolisian Daerah Sumsel dan 250 personel polisi huru hara.

Polisi sempat menembakkan tiga kali tembakan peringatan ke udara, dan sempat mengamankan empat warga desa.

Empat warga yang diamankan, yakni Pini Bin Lohan (48), warga Lorong Yakin Kertapati, Rapiudin (57), warga Desa sembawa, Imron Heri bin Abdullah (38), warga RT 3 Desa Tanjungmenang, dan Muhammad bin Abas (23), warga RT 05 Desa Tanjungmenang Musi.

Polisi juga menyita sepeda motor Yamaha King Nopol 4037 JG dan lima parang, tempat bensin, dan ban bekas.

Camat Rantau Bayur, Deni Sukmna, mengatakan, berniat mengumpulkan tokoh masyarakat di wilayahnya untuk meredam kemarahan warga atas penahanan warga Rantau Bayur tersebut.

Kepala Monitoring Kebun, Nusirwan yang ditemui di sela-sela kejadian tidak bersedia memberikan keterangan. Sedangkan Kapolres Banyuasin, Ajun Komisaris Besar Polisi Susilo RI, mengimbau warga agar menunggu hasil mediasi di Kementerian Pertanian.

sumber:http://regional.kompas.com/read/2010/08/03/06335942/Massa.Bakar.Balai.Penelitian.Kebun.Karet

Training and Consultancy


Training

1. Manajemen Produksi Tanaman Karet
2. Kultur Teknis Karet
3.Pengelolaan Hama dan Penyakit Tanaman Karet
4. Peningkatan Kompetensi Teknis dan Manajerial Asisten dan Mandor Tanaman
5.Penerapan dan Kriteria RSPO dan ISPO
6. Sertifikasi Asisten dan Mandor Tanaman

7. Peningkatan Produksi Pabrik Karet (Crumb Rubber, RSS dan Lateks)
8. Manajemen Pemeliharaan Pabrik Karet Berdasarkan Pengendalian Biaya dan Kehandalan Mesin
9.Pengendalian dan Pemanfaatan Limbah Pabrik Karet
10.Manajemen dan Teknik Pencegahan Kecelakaan Kerja dan Kerusakan Aset Pabrik
11. International Financial Reporting Standards (IFRS) Perusahaan Perkebunan
12.Best Practices Internal Auditing Perusahaan Perkebunan
13.Peningkatan Kompetensi KTU dan ATU Perusahaan Perkebunan.
14.Pengendalian Biaya Perusahaan Perkebunan Karet

Training and Consultancy
1. Training and Technical Assistant for Improvement Rubber Field and Factory
2. Integrited Solution for Developing Excellence Performance of Rubber Field and Factory
3. Advanced Quality System for Rubber Plantation

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *