Untuk Info Training, in House Training, Konsultansi, Membangun Sistem (ISPO, ISO Series, OHSAS, SMK3), Kajian, Pendampingan serta Modul untuk Perbaikan dan Peningkatan Kinerja unit di Perusahaan silahkan kirim email alamat berikut: trainingperkebunan@gmail.com

Tampilkan postingan dengan label news. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label news. Tampilkan semua postingan

Selasa, 01 Juli 2014

HARGA KARET: Wah, Jeda Siang Harga Berbalik Anjlok 0,62%

 Karet/Bisnis
Bisnis
Karet
Bisnis.com, JAKARTA— Harga karet di bursa Tokyo Commodity Exchange (Tocom) Rubber Future Contract pada pertengahan perdagangan Rabu (2/7/2014) kembali bergerak melemah.
Harga karet di bursa Tocom untuk kontrak November 2014, seperti dikutip Bloomberg, hari ini dibuka seharga 210,4 yen/kg, atau sempat menguat 0,67%  bila dibandingkan dengan penutupan Selasa (1/7/2014) yang berhenti di angka 209 yen/kg.
Pada pukul 10:12 WIB atau 12:12 waktu Tokyo, harga karet berbalik terkoreksi 0,62%  ke 207,7 yen/kg. Sampai dengan waktu tersebut, harga karet bergerak di kisaran 207,4 -212,1 yen/kg.
Pergerakan harga karet*
TanggalYen/kg
2/7 (10.12 WIB)207,7
1/7209
30/6208,5
27/6212,9
26/6217,7
25/6215,8





*Kontrak November 2014
Sumber: Bloomberg, 2014
Sumber : Bisnis.com

Senin, 29 Juli 2013

Petani Karet Bengkalis Mengeluh Harga Karet Anjlok

Lahan perkebunan karet milik warga Bengkalis
BENGKALIS, RIAUGREEN.COM - Masyarakat Petani karet Kabupaten Bengkalis Mengeluh Soal Harga karet saat ini, harganya Anjlok jauh hingga Rp7500 perkilo gram(Kg), Sebelum Pengumuman kenaikan harga BBM’ harga karet mencapai belasan ribu rupiah, setelah BBM resmi diumumkan kenaikannya oleh Pemerintah Republik indonesia, harga karet saat ini menurun jauh perkilogramnya.

Kondisi ini membuat Masyarakat Petani Karet  Bengkalis mengeluh dengan turunnya harga karet secara drastis, sebagian masyarakat kecil yang mata pencariannya hanya sebagai petani karet saat ini menjerit karna harga karet perkilonya tidak sesuai dengan kalkulasi naiknya harga BBM.


Begitu juga dengan yang di alami Sahri( 38), salah satu petani karet Dusun Simpang Ayam desa meskom kecamatan Bengkalis Saat di bincang-bincang dengan
RiauGreen.com, Jum’at (26/7/13) Sahri mengatakan, soal harga karet saat ini tidak sesuai dengan kebutuhan belanja rumah tangga semenjak BBM naik.

‘’Kami Sebagai rakyat kecil berharap kepada pihak pemerintah indonesia untuk memberikan kebijakan soal harga karet tersebut, supaya bisa setabil sesuai harga BBM yang saat ini naik, cuma ini kerja sehari-hari kami pak, penghasilan kami hanya petani karet, kami sebagai Rakyat kecil hanya bisa berharap kepada pemerintah untuk mempertimbangkan soal harga karet yang sekarang ini hanya Rp 7500 per/kg supaya dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari,’’ tutur Sahri.

Sementara itu pada hari yang sama petani karet lainnya, Zaimah(50) juga mengeluhkan turunnya harga karet, 


"Soal harga karet saat ini hanya Rp 7500, apalagi ini sudah dekat Lebaran, harga karet turun, mau belanja aja susah barang-barang semuanya mahal’’ujar Zaimah dengan nada sedih. (d’ari)
sumber : www.riaugreen.com


Minggu, 20 November 2011

Harga Karet Melompat Tinggi

Large_karet__3_

TOKYO: Harga karet melonjak tajam, dipicu pulihnya produksi mobil setelah sempat terganggu oleh banjir di Thailand. Hal ini meningkatkan prospek permintaan komoditas yang digunakan sebagai bahan baku ban.
Harga karet pengiriman April melonjak hingga 6,85 di 276,6 yen per kg atau setara US$3.587 per ton, kenaikan terbesar sejak 17 Maret. Harga sempat jatuh ke level terendah dalam dua tahun menjadi 248,6 yen pada 11 November 2011.
Nissan Motor Co--produsen mobil kedua terbesar Jepang, mengatakan pihaknya kembali memproduksi setelah banjir terburuk Thailand dalam hampir 70 tahun. Sementara itu, Honda Motor Co, produsen mobil ketiga terbesar Jepang, memulai kembali produksi sepeda motor.
Takaki Shigemoto, Analis perusahaan riset JSC Corp mengatakan kondisi terburuk sudah berakhir bagi pembuat mobil Jepang yang terkena banjir Thailand.
“Saat ini mereka mulai memulihkan produksi. Permintaanban dari produsen mobil akan kembali menguat," katanya seperti dikutip Bloomberg, hari ini.
Laporan tak hanya datang dari Nissan dan Honda. Sebelumnya, produsen mobil terbesar Asia, Toyota Motor Corp juga mengumumkan produksi tertahan oleh gangguan sebagian pasokan setelah banjir Thailand.perusahaan mengharapkan hampir seluruhnya akan pulih pada 21 November.
Honda dan Toyota memangkas perkiraan laba tahunan setelah gangguan banjir mengganggu rantai pasokan di Thailand. Toyota kehilangan produksi sebanyak 87.000 unit kendaraan di Thailand, dan 40.000 di Jepang, dari 10 Oktober-12 November.
Kenaikan harga karet juga dipicu ekonomi jepang yang tumbuh untuk pertama kalinya dalam empat kuartal tahun ini. Ini juga terjadi setelah Jepang pulih dari gempa Maret lalu, ekspor dan belanja konsumen pun meningkat.
Pertumbuhan tahunan produksi domestik bruto Jepang sebesar 6% dalam tiga bulan yang berakhir 30 September. Ini laju tercepat dalam 1,5 tahun.
Institut Penelitian Karet Thailand melaporkan harga acuan karet Thailand meningkat untuk pertama kalinya dalam 10 hari, yakni sebesar 3,2% menjadi 103,05 baht atau setara US$3,35 per kg.
Di Shanghai, harga karet pengiriman Januari melonjak hingga 6,4% dan ditutup pada yuan 25.675 atau setara US$4.041 per ton.
Sebelumnya, Ketua Asosiasi Karet Thailand Pongsak Kerdvongbundit mengatakan eksportir di Indonesia, Thailand, dan Malaysia sepakat menetapkan harga minimum untuk karet alam sebesar US$3 per kg. ketiga negara tersebut menyumbang 70% dari pasokan global.(ln)

Sumber:http://www.bisnis.com/articles/harga-karet-melompat-tinggi

Gapkindo minta anggotanya tidak jual karet di bawah US$ 3 per kg

JAKARTA. Krisis utang Eropa membuat harga karet semakin tertekan. Gabungan Perusahaan Karet Indonesia meminta anggotanya tidak menjual karet di bawah harga US$ 3 per kilogram.

Asal tahu saja, harga karet kualitas SIR 20 dijual sekitar US$ 3,30 per kilogram. Harga ini melorot jauh dibandingkan harga tertinggi pada Februari lalu sebesar US$ 5,8 per kilogram.

Indonesia merupakan produsen karet kedua terbesar setelah Thailand. Tahun lalu, produksi karet nasional 2,7 juta ton dan 2011 diramalkan 2,9 juta ton.

Ternyata bukan hanya pengusaha Indonesia saja yang mengerem penjualan karet. Pengusaha Thailand dan Malaysia juga berusaha membatasi penurunan harga karet.

Kepala Sekretaris International Rubber Consortium Ltd. Yium Tavarolit mengungkapkan, Indonesia, Thailand dan Malaysia sedang berdiskusi membatasi penurunan harga karet. Menurutnya, tindakan ini dilakukan karena permintaan dan pasokan karet tidak banyak berubah.

Konsumsi karet China sendiri naik sebesar 38% menjadi 220.000 ton pada Oktober lalu. Catatan saja, China adalah konsumen karet terbesar. Sementara, produksi karet di tiga penghasil karet terbesar itu baru akan menurun pada Januari akhir.

Sumber:http://industri.kontan.co.id/v2/read/industri/82478/Gapkindo-minta-anggotanya-tidak-jual-karet-di-bawah-US-3-per-kg-

Gapkindo Minta Anggotanya Tahan Ekspor Karet

Medan, 11/11 (ANTARA) – Gabungan Perusahaan Karet Indonesia sudah mengeluarkan himbauan agar perusahaan anggotanya tidak mengekspor karet kalau harga di bawah 3 dolar AS per kg guna mengantisipasi terus turunnya lagi harga komoditas itu.

“Surat berisi himbauan tidak menjual karet di bawah 3 dolar AS per kg itu sudah diterima dan Gapkindo Sumut juga sudah meneruskan ke anggotanya pada hari ini (Jumat,11/11),” kata Sekretaris Eksekutif Gapkindo Sumut, Edy Irwansyah, di Medan, Jumat.

Surat Gapkindo Pusat Nomor 463/SP/INT/XI/2011 tanggal 11 November 2011 itu dimaksudkan untuk mencegah agar harga tidak tertekan lagi dari harga tanggal 10 November yang sudah tinggal 3,149 dolar AS per kg.

Kemerosotan harga karet itu diduga kuat akibat tindakan spekulan melepas posisinya memanfaatkan krisis ekonomi di Amerika Serikat dan Eropa.

“Tindakan menahan kemerosotan harga karet itu juga dilakukan asosiasi karet di Thailand dan Malaysia,” katanya.

Mengutip pernyataan Gapkindo Pusat, Edy, menegaskan, surat himbauan itu merupakan putusan dalam Rapat Darurat Tim Analisis Pasar Gapkindo yang disetujui oleh Ketua Umum Gapkindo,
Harga karet jenis SIR 20 di pasar bursa Singapura pada pembukaan 11 November untuk pengapalan Desember melemah delapan sent dolar AS per kg dari harga di 10 November 2011.

Pada 10 November, harga SIR 20 ditutup sebesar 3,149 dolar AS per kg untuk pengapalan Desember dan 3,171 dolar AS per kg untuk Januari 2012.

Harga itu sangat murah dibandingkan sebelumnya seperti pada 28 September yang masih 4,151 dolar AS per kg
Akibat harga ekspor yang semakin anjlok, harga bahan olah karet (bokar) di pabrikan Sumut juga semakin murah atau tinggal Rp24.000 – Rp26.000 per kg dari Rp32.000 – Rp34.000 per kg pada 28 September.

International Rubber Consortium Limited (IRCo) yang merupakan perusahaan patungan karet alam yang dibentuk negara produsen utama Thailand, Malaysia, dan Indonesia untuk mengatasi harga karet alam, sebelumnya juga sudah mengisyaratkan perlunya dilakukan pembatasan ekspor kalau harga turun di bawah 4 dolar AS per kg.

Tindakan IRCo itu sempat menaikkan harga karet yang melemah, tetapi akhirnya turun lagi karena krisis di AS dan Eropa masih berkepanjangan dan kondisi itu akhirnya dimanfaatkan spekulan.

Pengamat ekonomi Sumut, Jhon Tafbu Ritonga, menyebutkan,langkah Gapkindo harus didukung eksportir.

Harga karet harus dipertahankan menguat agar petani tidak susah dan penerimaan devisa pemerintah dari komoditas itu berkurang.

Pengaruh Indonesia, Malaysia dan Thailand yang cukup besar karena 70 persen kebutuhan pasar karet alam dunia dipasok oleh tiga negara tersebut harus ditunjukkan.

“Negara produsen sudah seharusnya tidak selalu kalah dengan negara pembeli.Bagaimana pun mereka butuh karet alam,” katanya.***5***
(T.E016/B/M034/M034)

Sumber:antarasumut.com

Harga Turun Hampir 50 Persen, Petani Karet Resah

Bengkalis,utusanriau.com - Harga Getah Karet terjadi penurunan sejak dua pekan terakhir mulai diresahkan oleh kalangan petani di Pulau Bengkalis. Harga Karet sebelumnya berkisar hingga Rp 15 ribu rupiah perkilogram, terus mengalami penurunan. Saat ini Karet dipatok dari kalangan tengkulak sudah tembus hanya dihargai rata-rata Rp 8 ribu rupiah untuk perkilogram atau turun mencapai 46 persen.


Seperti dituturkan salah seorang petani Karet dari Desa Jangkang, Kecamatan Bengkalis, Nurasiah (34). Dirinya tidak menyangka akan terjadi penurunan harga Karet yang terus menerus. Sebelumnya dengan harga Rp 15 ribu perkilo, terus turun ke Rp 14 ribu dan selanjutnya turun di bawah Rp 10 ribu-an perkilo.

“Ya tentu saja kita mulai risau dengan harga Karet ini yang terus turun. Selama ini kita memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dari menakik Getah,” tuturnya Nuraisah Minggu (20/11).

Demikian halnya yang diutarakan oleh petani Karet dari Desa Bantan Tengah Kecamatan Bantan, Latifah (40). Dengan kondisi harga Karet yang terus turun dirinya juga mulai khawatir. Harga karet yang selama ini bisa diandalkan selain memenuhi kebutuhan hidup keluarga, juga untuk memenuhi kebutuhan hidup anak-anaknya bersekolah.

“Kami juga tak inginkan harganya terus turun. Ntah apa penyebabnya, kalau terus turun jadi gak semangat mau takek Getah,” keluhnya.**

(eko/eko)

Sumber:utusanriau.com

Harga Karet Berjangka Ditutup Melemah

Harga Karet berjangka kembali mengalami penurunan. Harga Karet berjangka yang diperdagangkan di TOCOM (Tokyo Commodity Exchange) ditutup melemah. Harga Karet RSS3 untuk penyerahan November 2011 ditutup pada level harga ¥264 per kilogram dari harga sebelumnya ¥273 per kilogram. Melemahnya harga Karet dipengaruhi oleh turunnya harga minyak mentah dunia. Selain itu bertambahnya pasokan Karet asal India juga mempengaruhi pergerakan harga Karet dunia. India, merupakan produsen keempat terbesardi dunia setelah Thailand, Indonesia, Malaysia dan Vietnam. Produksi India naik 8,4 persen pada Oktober2011 menjadi 89 300 ton. Saat ini di wilayah India tengah mEmasuki musim penyadapan Karet. Penurunan harga jual getah Karet juga terjadi di daerah hilir di Labuhanbatu Sumatera Utara. Harga jual getah Karet berada pada harga Rp 13.000 per kilogram dari harga sebelumnya Rp 15.000 per kilogram. Sementara itu, volume ekspor Karet Sumatera Selatan, rata-rata kisaran antara 65.000 ton hingga 70.000 ton per bulan. Nilai ekspor Karet pada periode Januari-Agustus 2011 tercatat menghasilkan devisa 2,787 miliar dolar AS, atau naik dibandingkan kondisi periode bulan yang sama pada 2010 hanya 1,510 miliar dolar AS. Wilayah penanaman Karet mencapai satu juta hektare tersebar pada sejumlah daerah penghasil, seperti di Kabupaten Banyuasin, Musibanyuasin, Muaraenim, Ogan Komering Ulu Timur, Lahat, Pagaralam, Ogan Komering Ilir dan termasuk di wilayah Kota Prabumulih.

Sumber: bappebti.go.id

Larangan Ekspor Karet Dikhawatirkan Turunkan Harga Bokar

Medan, (Analisa). Pedagang karet di Sumatera Utara mengaku cemas dengan adanya himbauan kepada eksportir untuk menahan ekspor karena kebijakan itu bisa membuat harga bahan olah karet di pabrikan semakin anjlok.
"Kalau ekspor ditahan, harga bokar (bahan olah karet) di pabrikan turun lagi, bahkan anjlok dari harga yang sudah murah Rp24 ribuan per kg," kata pedagang karet di Sumut, M.Harahap, di Medan, Sabtu (12/11).

Padahal, kata dia, dewasa ini stok bokar di tangan pedagang masih ada dan dibeli dengan harga lama saat harga jual komoditas itu di pabrikan di kisaran Rp29.000 -Rp30.000 per kg.

"Bisa rugi besar kalau begini caranya," katanya.

Selain rugi besar dari selisih harga beli dan jual, pedagang juga khawatir petani tidak mau jual getah dengan alasan harga semakin murah.

"Padahal getah petani pun sedikit karena penderesan terganggu akibat musim hujan," katanya.

Sekretaris Eksekutif Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo), Edy Irwansyah, mengakui bahwa asosiasi itu sudah melayangkan surat ke anggota tentang permintaan menahan ekspor kalau harga di bawah 3 dolar AS per kg, sesuai surat dari DPP Gapkindo. (Ant)

Sumber:www.analisadaily.com

Tiga Produsen Karet Gelar Pertemuan di Bangkok

Bangkok, (Analisa). Tiga negara penghasil karet terbesar dunia, Indonesia, Thailand, dan Malaysia, akan mengadakan pertemuan di Bangkok pada akhir pekan ini untuk membahas penurunan harga karet di pasar global.
"Pertemuan akan berlangsung selama dua hari pada 18-19 November. Kami akan membahas beberapa tindakan yang bisa mendongkrak harga karet," ujar Chief Secretary of the International Rubber Consortium (IRCo), Yium Tavarolit, seperti dikutip Reuters, Selasa (15/11).

Saat ini, harga patokan karet di Thailand anjlok 50 persen dari posisi tertinggi pada Februari 2011, dari 6,4 dolar AS per kg menjadi 3,3 dolar AS per kg.

Berdasarkan data Reuters, inisiatif Thailand, Indonesia, dan Malaysia menggelar pertemuan mampu mendongkrak harga karet di Bursa Berjangka Tokyo sebesar 7 persen mnjadi 3,6 dolar AS per kg. Ini merupakan harga tertinggi sejak 9 November 2011. Meski begitu, para pemasok meragukan efektivitas pertemuan itu.

IRCo merupakan organisasi yang terdiri atas perusahaan karet, eksportir, dan pemerintah dari tiga negara ASEAN.

Reuters mencatat, Indonesia, Thailand, dan Malaysia menghentikan ekspor karet sebesar 915 ribu ton pada Desember 2008 ketika krisis finansial global berkecamuk. Saat itu, harga karet menyentuh 1,1 dolar per kg. Hasilnya, harga mulai bangkit pada pertengahan 2009.

Namun, Reuters menilai, hal itu lebih dipicu lonjakan permintaan dari perusahaan ban di Cina dan India. "Pembatasan ekspor tidak bisa sepenuhnya mengangkat harga karet," tulis Reuters. (Ant/Rtr)

Sumber:www.analisadaily.com

Bahan Baku Karet di China Over Stock

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Ketua Bidang Produksi Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Pusat Fauzy Hasbalah, saat disinggung terkait apakah Gapkindo akan membuka pasar potensial baru untuk memasarkan produksi karet, setelah konsumen terbesar mereka yaitu China, Amerika dan Eropa mengurangi jumlah permintaannya, ia mengaku hal itu relatif.

Jepang, Korea dan Taiwan sebagai eksportir keempat dan kelima karet dunia, ternyata memiliki pabrik di China, Amerika dan Eropa, yang membuat gairah mereka hampir sama dengan negara yang terkena dampak krisis global. Hal itu diutarakannya, saat dikonfirmasi melalui selulernya, Selasa (15/11).

"China sendiri mengatakan saat ini bahan baku karetnya over stock. Dia tidak berani membeli karet secara besar-besaran karena indsustrinya sedang melemah. Harusnya memang, tingginya pasar otomotif sejalan dengan tingginya harga karet. Sebab sebagian besar karet Indonesia digunakan untuk produksi ban dunia. Namun sayang, hal itu tidak terjadi," ujarnya.

Ia juga mengatakan, dampak fluktuasi penurunan harga karet tidak hanya terjadi di Iondonesia, tetapi juga terjadi di dua negara produsen karet dunia lainnya seperti Thailand dan Malaysia.

Sementara itu, Sekretaris Eksekutif Gapkindo Sumatera Utara (Sumut) Edy Irwansyah, saat dijumpai di kantornya beberapa waktu lalu mengatakan hal serupa. Ia berujar, hingga bulan Oktober saja pihaknya mencatat harga karet alam hanya seharga 3,41 sen dollar Amerika, di mana harga rata-rata normal harusnya berada di lima sen dollar Amerika per kilogram.(Irf/tribun-medan.com)

Sumber: medan.tribunnews.com

Nilai Ekspor Karet Naik 6,12 Persen

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Sekretaris Eksekutif Gapkindo Sumatera Utara (Sumut) Edy Irwansyah, mencatat dari tahun 2011 lalu, hanya terjadi peningkatan 6,12 nilai ekspor terjadi di Sumut. Di mana volume ekspor dari Sumatera Utara hanya memegang 20 persen secara nasional. Hal itu diutarakannya, Rabu (9/11/2011).

"Saya juga mau tekankan, karet alam yang kita ekspor ke beberapa negara, 70 persennya diserap oleh industri ban dunia. Jadi fluktuasi pertumbuhan harga dan permintaan bergantung juga terhadap pertumbuhan industri otomotif. Industri otomotif Jepang, China dan Amerika yang sedang tidak stabil, tentu mempengaruhi harga juga jadi tidak ada hubungannya dengan Thailand," ujarnya.

Dikesempatan yang sama, ia juga mencatat hingga September 2011 telah terekpor 405 ribu ton karet alam Sumut ke 54 negara konsumen, di mana permintaan terbesar datang dari Jepang, China dan Amerika.(Irf/tribun-medan.com)

Sumber:medan.tribunnews.com

Turunnya Harga Karet Berdampak Simultan Terhadap Petani dan Industri

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Ketua Bidang Produksi Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Pusat Fauzy Hasbalah, menjelaskan hal serupa juga terjadi di Eropa, di mana krisis financial yang melanda kawasan itu, mau tidak mau menurunkan jumlah produksinya untuk menurunkan biaya perusahaan. Yang dijelaskan Fauzy, berdampak pada kian merosotnya harga karet dunia mendekati harga 3 Dollar.

"Harga normal sawit sebenarnya tidak ada. Tetapi perhitungannya, jika harga karet naik petani semakin bergairah yang otomatis petani yang memiliki bahan baku karet akan meningkatkan produksinya untuk dikirim ke perusahaan pengolahan karet," ujarnya, Selasa (15/11).

Pada tahun 2003, Gapkindo sendiri sudah bekerja keras untuk menstabilkan harga karet, di mana fluktuasi kenaikannya sejak tahun itu terus meningkat mulai dari 50 Sen US Dollar merangkak jadi 1,50 Sen Dollar. Pada tahun-tahun selanjutnya Gapkindo juga telah mendongkrak harga jual karet Indonesia di pasar dunia, Namun memang terjadinya krisis financial di Eropa membuat dampak harga karet kembali turun.

"Yang perlu diingat adalah, bukan industri karet menikmati tingginya harga jual karet dunia tetapi para petani. Namun, turunnya harga karet industri karet juga terkena dampaknya terutama dalam hal ongkos produksi," ungkapnya.(Irf/tribun-medan.com)

Sumber:medan.tribunnews.com

Permintaan Karet Tidak Berpengaruh Terhadap Banjir di Thailand


TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN -
Sekretaris Eksekutif Gapkindo Sumatera Utara (Sumut) Edy Irwansyah, saat dijumpai di kantornya Jalan Gatot Subroto, Medan, menjelaskan tiga konsumen karet alam terbesar yaitu China, Amerika dan Jepang untuk saat ini perekonomiannya sedang tidak baik. Perbaikan ekonomi Amerika yang saat ini belum stabil menambah daftar kian merosotnya harga karet. Sementara tiga produsen utama yaitu Thailand, Indonesia dan Malaysia, juga harus dilihat faktor eksternalnya dalam hal ini faktor alam.

"Yang masyarakat tau produksi Thailand menurun dan permintaan harga karet di dua produsen lain Indonesia dan Malaysia pasti naik. publik tidak memperhatikan faktor lain seperti stabilitas politik dan ekonomi di tiga negara konsumen. Produksi industri Jepang sendiri tahun ini mengalami penurunan, yang membuat permintaan karet Indonesia biasa saja," pungkasnya, Rabu (9/11/2011).

Dijelaskannya, anjloknya harga karet alam juga dampat krisis ekonomi di Yunani. Tak terkecuali China sebagai konsumen terbesar karet dunia, ekonominya kini merosot, yang membuat stok bahan baku karet yang mereka punya digunakan terlebih dahulu ketimbang memesannya ke Indonesia.(Irf/tribun-medan.com)

Sumber:medan.tribunnews.com

Harga Karet Alam Turun

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) mencatat tidak ada fluktuasi kenaikan harga karet alam Indonesia, menyusul terjadinya bencana banjir yang melanda Thailand. Hal itu diutarakan Sekretaris Eksekutif Gapkindo Sumatera Utara (Sumut) Edy Irwansyah, saat dijumpai di kantornya Jalan Gatot Subroto, Medan, Rabu (9/11/2011).

Dijelaskannya, hingga bulan Oktober saja pihaknya mencatat harga karet alam hanya seharga 3,41 sen dollar Amerika, di mana harga rata-rata normal harusnya berada di lima sen dollar Amerika per kilogram.

"Sama sekali tidak ada gerusan kenaikan harga dan tingginya permintaan pasar internasional terhadap karet alam kita akibat banjir Thailand. Yang perlu diketahui, fluktuasi harga karet terjadi berhubungan dengan stabilitas politik dan ekonomi dari tiga produsen dan tiga konsumen utama," ujarnya.(Irf/tribun-medan.com)

sumber:medan.tribunnews.com

Penurunan Harga Karet Akibat Tiga Negara

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Mulai kelimpungannya pasar karet di dunia akibat tiga negara konsumen terbesar karet yaitu China, Amerika dan Eropa terkena dampak krisis financial, ditanggapi langsung oleh Ketua Bidang Produksi Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Pusat Fauzy Hasbalah.

Eks pengurus Gapkindo Sumut ini mengatakan, dampak yang terjadi akibat krisis financial memang sangat luar biasa terhadap penjualan karet lokal. Dikonfirmasi melalui selulernya, Fauzy menjelaskan, yang menjadi masalah saat ini adalah karena tiga konsumen terbesar yang terkena krisis. Berbeda ceritanya kalau yang terkena krisis datang dari konsumen kecil.

"Dampaknya memang sangat luar biasa. Tetapi Gapkindo Pusat sendiri telah mengeluarkan semacam peraturan agar karet tidak dijual dibawah 3 Dollar. Kalau konsumen kecil yang krisis tidak menjadi masalah, justru karena tiga negara pengekspor karet terbesar di dunia terkena dampak," ungkapnya, Selasa (15/11).

Ia mengatakan, China sebagai pengekspor karet terbesar di dunia, kini sedang menghabiskan sisa stok pembelian mereka. Sementara Amerika pembeli kedua terbesar di dunia, banyak pabrik yang tidak mampu membeli karet karena tidak memiliki uang.(Irf/tribun-medan.com)

Sumber: medan.tribunnews.com

Curah Hujan Tinggi, Produksi Getah Karet Tak Maksimal

image

MIJEN, suaramerdeka.com - Intensitas curah hujan yang tinggi akhir-akhir ini membuat ribuan hektare tanaman karet di wilayah Mijen, Semarang, getahnya banyak mengandung air. Banyaknya kandungan air mengakibatkan sulitnya pemisahan karet murni (lateks), imbasnya mutu getah karet menjadi tidak maksimal.

"Awal musim penghujan sedikit banyak berpengaruh pada sadapan," kata Siswoyo (55), penyadap karet asal Jatibarang.

Menurutnya, mutu karet saat musim semi di lahan milik PT Karya DK Alam Lestari setelah pohon meranggas masih kurang baik. Diperkirakan, sadapan maksimal akan berlangsung pada Februari tahun depan setelah pohon dalam kondisi berdaun lebat dan suhu lingkungan sekitar berhawa dingin.

"Setiap hari masing-masing penyadap hanya memperoleh 20-25 kg getah karet," ungkapnya.

Sumber: suaramerdeka.com

Senin, 21 Maret 2011

Harga karet merambat naik, tapi belum menetes pada petani

1117746287p Harga karet merambat naik, tapi belum menetes pada petani

Ketua Umum Pengusaha Karet Indonesia, Asril Sultan Amir mengatakan saat ini harga karet sudah kembali naik. “Para petani itu keliru, kalau mengatakan saat ini harga karet turun,” ujar Asril kepada KONTAN, Jumat (18/3).

Asril menjelaskan, bahwa minggu lalu, setelah terjadi tsunami di Jepang, harga karet memang turun drastis. “Harga karet setelah tsunami merosot drastis, penurunan ini belum pernah terjadi dalam sejarah,” terang Asril. Menurutnya, harga karet per kilogram (kg) sebelum gempa dan tsunami di Jepang berada di atas US$ 5 per kg, namun setelah bencana di Jepang, harganya langsung merosot sebesar US$ 3,8 per kg.

Asril memaparkan, tapi sekarang harga karet di sudah kembali normal. Menurutnya rata-rata harga karet sekarang ini sudah mencapai RP 35.000 per kg dan di tingkat petani minimal Rp 14.000 per kg.

Harga karet dalam perdagangan internasional memang sudah mulai membaik. Menurut data dari Bloomberg, harga karet di bursa Tokyo Jepang sebesar 408.60 yen per kg, lebih tinggi dari harga Kamis (17/3) 396.90 yen per kg.

Sebelumnya, harga karet telah turun 37% dari rekornya 535,7 yen per kg pada 18 Februari 2011 menuju 335 per kg pada 15 Maret 2011, yang menjadi harga terendahnya dalam empat bulan terakhir. Penurunan harga karet sebelumnya terjadi akibat sentimen memburuknya keadaan di Timur Tengah dan melambatnya penjualan mobil di China karena meningkatnya sentimen permintaan yang mulai turun.

Meskipun demikian harga karet di tingkat petani masih tergolong rendah. Menurut Yunisa Gea, petani karet asal Sibolga Sumatera Utara, mengatakan dalam beberapa minggu terakhir ini, harga karet di daerahnya terus merosot.

Yunisa mencontohkan, pada hari minggu lalu, harga karet merosot dari Rp 17,500 menjadi Rp 8.000. “Kami khawatir kalau harga karet bisa sampai Rp 5.000 per kg,” kata Yunisa, Jumat (18/3). Yunisa mengatakan, kalau penurunan harga karet ini berlangsung lama, maka pendapatan mereka pasti akan merosot drastis.

Saat ini, sekali seminggu, mereka bisa mendapat uang sebesar Rp 2 juta, namun sekarang tinggal Rp 700.000 – Rp 800.000 per minggu. Situasi ini mengkhawatirkan sekali karena ada sejumlah kebutuhan yang selama ini sudah berjalan lancar bisa jadi macet. Sementara petani di Kecamatan Barong Tongkok Kalimantan Timur juga mengeluhkan hal yang sama. Sekitar satu bulan yang lalu harga karet di sana Rp 17.000 per kg, sekarang berkisar Rp 5.000 – Rp 6.000 per kg. “Sekarang warga kampung kami sudah resah karena penurunan harga ini,” ujar Soza.

Source: kontan online

Minggu, 23 Januari 2011

Volume ekspor karet 2011 akan naik 8%

JAKARTA: Kendati masih terkendala anomali cuaca hingga April, volume ekspor karet Indonesia pada 2011 diperkirakan tetap akan mengalami kenaikan hingga 8% dibandingkan dengan perkiraan realisasi tahun ini sebesar 2,4 juta ton.

Selain kenaikan dari segi volume, nilai ekspor karet juga diprediksi mengalami kenaikan signifikan sekitar 25% dibandingkan dengan perkiraan realisasi nilai ekspor pada tahun ini sebesar US$8 miliar.

Ketua Umum Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Asril Sutan Amir mengatakan tingginya permintaan terhadap karet dunia memacu volume ekspor komoditas tersebut. Di sisi lain, suplai yang tidak seimbang dengan besarnya permintaan dari negara konsumen karet menyebabkan harga komoditas tersebut cenderung mengalami kenaikan di pasar internasional.

Menurut Asril, sejumlah negara konsumen karet terbesar masih akan mencatat permintaan tinggi terhadap komoditas karet dalam volume yang cukup besar seiring dengan pertumbuhan ekonomi di negaranya masing-masing. Sementara itu, harga karet dunia pada 2011 akan melanjutkan penguatannya dan diperkirakan akan berada pada kisaran US$3,5-US$4,5 per kilo.

“Baik faktor harga dan permintaan sama-sama berpengaruh sehingga volume dan nilai mengalami kenaikan. Volume akan naik di kisaran 7-8%, sementara harga akan berada di kisaran US$3,5-US$4,5 per kilo. Jika harga karet berada pada rata-rata US$4 per kilo, kemungkinan nilai pada tahun depan akan mencapai US$10 miliar,” ujar Asril di sela-sela pemaparan review dan outlook komoditas karet Indonesia, hari ini.

sumber:http://www.bisnis.com/index.php/ekonomi/perdagangan/2039-volume-ekspor-karet-2011-akan-naik-8

Senin, 06 Desember 2010

Brigstone akan pangkas 50% penggunaan karet untuk produksi ban dalam 10 tahun

TOKYO. Produsen ban terbesar dunia, Brigstone Corp akan mengurangi konsumsi karet sebanyak 50% dalam 10 tahun kedepan setelah harga karet melambung empat kali lipat dari harga terendahnya di 2008 silam.

General Manager Corporate Communication Brigstone Corp Masayuki Ishii bilang, Brigstone akan mengembangkan teknologi yang mampu mengurangi konsumsi karet alam dan sintetis untuk produk ban mereka. "Tapi tanpa mengurangi kualitas produk," ujarnya.

Tahun ini Brigstone menggunakan 1,77 juta metrik ton karet alam dan sintetis untuk produksi. Angka ini naik 24$ dibanding tahun 2009. Dari jumlah kebutuhan karet sebanyak 1,77 juta metrik ton itu, sebanyak 1,23 juta ton atau 69% berasal dari pasokan luar negeri.

Harga karet dunia memang terus meningkat setelah pasokan karet dari Thailand menurun karena bencana banjir yang melanda salah satu produsen karet terbesar dunia itu. Dilain sisi, permintaan karet dari China pun meningkat. Oleh karena itu, Brigstone mau tak mau harus menaikkan harga jual ban di AS bulan lalu untuk ketiga kalinya dalam setahun ini.

Akibat harga karet melonjak, beban produksi perusahaan ban ikut membengkak. Kya aKramer, kepala eksekutif Goodyear memprediksi harga bahan baku ban akan naik 35% pada kuartal keempat tahun ini. Michelin, produsen ban lainnya menyatakan beban perusahaan naik dari € 600 juta menjadi € 650 juta tahun ini, lantaran naiknya bahan baku ban itu.

Goldman Sachs memprediksi harga karet menjadi US$ 4,40 per kilogram (kg) tahun depan darpi US$ 3,60 per kg tahun ini. Sementara perkiraan harga karet tahun 2012 sekitar US$ 3,80 per kg. Harga karet untuk pengiriman bulan Juli naik 0,9% menjadi US$4,40 per kg di Singapura, kemarin (2/12).

sumber:http://klasik.kontan.co.id/industri/news/53762/Brigstone-akan-pangkas-50-penggunaan-karet-untuk-produksi-ban-dalam-10-tahun

Harga Karet Naik, Bridgestone Pusing

autolandmedia.com

TOKYO, KOMPAS.com - Bridgestone Corporation pusing menghadapi terus naiknya harga bahan baku ban, karet mentah (alam). Jika terus menanjak, produsen ban terbesar di dunia itu dipaksa memangkas konsumsi karet alam hingga setengahnya (50 persen) dalam satu dekade mendatang.

Konsumsi karet mentah di seluruh dunia diprediksi mencapai 313.000 ton tahun ini. Tahun depan, menurut Goldman Sachs Group Incorporated, harga karet mentah sebagai salah satu komoditas utama mencapai 4,40 dollar AS per kg, naik empat kali lipat dari harga 2008, satu dolar AS per kg.
Lonjakkan permintaan karet alam tidak berimbang dengan produksinya. Pasalnya, pohon karet perlu waktu lama untuk bisa diambil getahnya.

Untuk mengatasinya, menurut Masayuki Ishii, General Manager Corporate Communications Division Bridgestone, akan dikembangkan teknologi ban yang bisa meminimalisir penggunaan karet mentah tanpa menurunkan kualitas.

"Sangat masuk akal untuk memangkas penggunaan karet alam seiring dengan harganya yang semakin mahal. Perusahaan kami punya teknologi dan mengerti sepenuhnya kondisi sekarang,” jelas Ishii.

Dijtambahkan, permintaan ban di seluruh dunianaik 20 persen mulai 2009 sampai 2015 mendatang. Penyebabnya lonjakkan pasar pada beberapa negara berkembang. Bahkan di sektor kendaraan niaga, seperti ban bus dan truk, naik sampai 50 persen.

Penulis: AGK
Editor: Zulkifli BJ
autonews

Sumber :http://otomotif.kompas.com/read/2010/12/03/0848060/Harga.Karet.Naik.Bridgestone.Pusing

Training and Consultancy


Training

1. Manajemen Produksi Tanaman Karet
2. Kultur Teknis Karet
3.Pengelolaan Hama dan Penyakit Tanaman Karet
4. Peningkatan Kompetensi Teknis dan Manajerial Asisten dan Mandor Tanaman
5.Penerapan dan Kriteria RSPO dan ISPO
6. Sertifikasi Asisten dan Mandor Tanaman

7. Peningkatan Produksi Pabrik Karet (Crumb Rubber, RSS dan Lateks)
8. Manajemen Pemeliharaan Pabrik Karet Berdasarkan Pengendalian Biaya dan Kehandalan Mesin
9.Pengendalian dan Pemanfaatan Limbah Pabrik Karet
10.Manajemen dan Teknik Pencegahan Kecelakaan Kerja dan Kerusakan Aset Pabrik
11. International Financial Reporting Standards (IFRS) Perusahaan Perkebunan
12.Best Practices Internal Auditing Perusahaan Perkebunan
13.Peningkatan Kompetensi KTU dan ATU Perusahaan Perkebunan.
14.Pengendalian Biaya Perusahaan Perkebunan Karet

Training and Consultancy
1. Training and Technical Assistant for Improvement Rubber Field and Factory
2. Integrited Solution for Developing Excellence Performance of Rubber Field and Factory
3. Advanced Quality System for Rubber Plantation

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *